Uncategorized

Oya Pigome: Politisi Muda Papua Tengah Angkat Bicara Soal Pembakaran Mahkota Cenderawasih Sangat Lecehkan Budaya Papua

824
×

Oya Pigome: Politisi Muda Papua Tengah Angkat Bicara Soal Pembakaran Mahkota Cenderawasih Sangat Lecehkan Budaya Papua

Sebarkan artikel ini

Waspadatv.co.id || Nabire, Papua Tengah – Politisi muda Papua tengah, Oya Pigome, menilai tindakan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua yang melakukan pemusnahan mahkota Cenderawasih dengan cara dibakar sangat tidak elok di pandang. (22/10/2025).

Pigome, mahkota Cenderawasih memiliki nilai sakral dan merupakan simbol kehormatan serta identitas Orang Asli Papua (OAP). Dalam tradisi adat, mahkota ini dikenakan oleh pemimpin adat dalam berbagai upacara, tarian, hingga penyambutan tamu kehormatan seperti presiden atau tokoh dunia yang datang ke tanah Papua.

Menurutnya, membakarnya merupakan langkah yang sangat melecehkan adat dan budaya orang asli Papua,”ujar Oya Pigome yang juga adalah Ketua DPW Partai Ummat Provinsi Papua Tengah ini.

Pigome menegaskan, mahkota Cenderawasih seharusnya dimuseumkan sebagai warisan budaya dan identitas masyarakat Papua, bukan dimusnahkan. saya secara mendukung pelarangan perburuan burung Cenderawasih untuk menjaga kelestarian satwa endemik tersebut, namun menolak keras tindakan yang tidak menghormati nilai budaya.

“Mahkota Cenderawasih memiliki nilai adat dan budaya, sehingga seharusnya dimuseumkan, bukannya dibakar,” kata Politisi Partai Ummat ini.

Lebih lanjut, Pigome meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mengevaluasi dan mengambil langkah-langkah tegas terhadap pihak BBKSDA Papua yang terlibat dalam aksi tersebut.

“Saya meminta Kementerian Kehutanan maupun Kementerian Lingkungan Hidup yang menaungi BBKSDA Papua untuk dimutasi ke luar Papua, karena mereka tidak memahami nilai sakral dan simbol kehormatan dalam mahkota Cenderawasih,” tandas Politisi Muda ini.

Pigome, sangat berharap harus ada langkah cepat dan tegas dari pemerintah pusat sebelum hal-hal yang tidak di inginkan terjadi di atas Tanah Papua.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250