Nasional

Banjir Bandang dan Longsor Landa Sumatera: 104 Warga Tewas, Puluhan Ribu Mengungsi

79
×

Banjir Bandang dan Longsor Landa Sumatera: 104 Warga Tewas, Puluhan Ribu Mengungsi

Sebarkan artikel ini

Waspadatv.co.id ||Bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera sejak akhir November 2025. Peristiwa ini memicu krisis kemanusiaan dan merusak infrastruktur vital di tiga provinsi utama—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga Jumat (28/11/2025), total 104 warga dilaporkan meninggal dunia, puluhan ribu lainnya mengungsi, dan sejumlah wilayah terisolasi akibat akses jalan yang terputus.

Sumatera Utara: Dampak Terparah, 62 Warga Meninggal

Di Sumatera Utara, bencana terjadi hampir serentak di Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Hujan deras memicu banjir bandang dan longsor yang merusak jembatan, menutup akses jalan, serta memaksa ribuan warga meninggalkan rumah.

Pemerintah Provinsi Sumut menetapkan status tanggap darurat, sementara Polda Sumut melaporkan jumlah korban meninggal dunia terus bertambah hingga mencapai 62 orang. Longsor di Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, menelan empat korban jiwa, sedangkan lima warga lainnya ditemukan meninggal akibat banjir bandang di Humbang Hasundutan.

Hampir 2.000 rumah terendam di Tapanuli Tengah, ditambah sekitar 1.000 rumah di Langkat. Gangguan listrik dan jaringan telekomunikasi juga terjadi di sejumlah wilayah.

Sumatera Barat: Kerusakan Infrastruktur Meluas

Dampak bencana di Sumatera Barat tercatat lebih meluas, mencakup 13–14 kabupaten/kota seperti Padang Pariaman, Kota Padang, Agam, Pesisir Selatan, Solok, Kota Pariaman, Bukittinggi, Pasaman Barat, dan lainnya. Intensitas hujan ekstrem menyebabkan banjir, longsor, dan kerusakan fasilitas publik.

Banyak rumah warga terendam, sejumlah ruas jalan terputus, dan empat jembatan mengalami kerusakan, termasuk Jembatan Gunung Nago yang roboh akibat banjir bandang. Pemerintah Provinsi Sumbar menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari terhitung sejak 26 November hingga 8 Desember 2025.

Aceh: 30 Warga Tewas, Ribuan Mengungsi

Di Aceh, banjir bandang melanda wilayah Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Barat, Aceh Tenggara, Subulussalam, Bireuen, Lhokseumawe, Langsa, Aceh Timur, Gayo Lues, Aceh Singkil, dan Aceh Selatan.

Sebanyak 30 warga dilaporkan meninggal dunia, sementara 119.998 jiwa terdampak langsung. Lebih dari 20 ribu orang terpaksa mengungsi. Ribuan rumah terendam, termasuk 7.972 unit di Aceh Timur dan sekitar 6.000 unit di Aceh Singkil. Jaringan listrik dan akses jalan di beberapa titik juga terputus.

Kronologi Hujan Ekstrem 21–28 November 2025

Hujan dengan intensitas sangat tinggi mengguyur Sumatera sejak 21–23 November 2025, memicu luapan sungai dan tanah longsor:

• 24 November: Banjir dan longsor melanda empat wilayah di Sumut.

• 25 November: Empat warga meninggal akibat longsor di Tapanuli Tengah; lima korban ditemukan di Humbang Hasundutan. Siklon Tropis Senyar terbentuk dari bibit siklon 95B.

• 26 November: BNPB merilis laporan sementara; Sumbar menetapkan masa tanggap darurat.

• 27 November: Jembatan Gunung Nago roboh; jumlah korban di Sumut naik menjadi 43 orang. Menko PMK memimpin rapat penanganan di BNPB.

• 28 November: Tagar #PrayForSumatera trending; total korban jiwa di Sumut menjadi 62 orang. Total korban seluruh Sumatera mencapai 104 orang.

Faktor Penyebab: Kombinasi Siklon dan Indeks Dipole Negatif

BMKG menyebutkan bencana dipicu oleh:

• Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka yang meningkatkan pembentukan awan konvektif di Sumut dan Aceh.

• Siklon Tropis Koto di Laut Sulu yang memengaruhi pola angin dan membawa massa udara basah ke wilayah barat Indonesia.

• Indeks Ocean Dipole (IOD) negatif yang memperkuat curah hujan ekstrem di Sumatera Barat.

Kombinasi ketiga fenomena ini membuat atmosfer di Sumatera sangat tidak stabil, sehingga memicu hujan di atas normal dan bencana hidrometeorologi.

Dampak Bencana

Korban jiwa: 104 orang (62 di Sumut, 30 di Aceh, 12 di Sumbar).

Luka-luka: 95 warga di Sumut mengalami luka berat dan ringan.

Orang hilang: 81 orang (65 di Sumut, 16 di Aceh).

Pengungsian: Lebih dari 30 ribu warga mengungsi di tiga provinsi.

Kerusakan rumah: Ribuan unit terendam atau rusak.

Infrastruktur: Jembatan putus, listrik padam, jaringan telekomunikasi terganggu, akses jalan terputus.

Kerugian ekonomi: Di Sumbar kerugian sementara tercatat mencapai Rp4,9 miliar.

Lingkungan: Kerusakan lahan pertanian di Agam dan Pasaman Barat serta potensi kerusakan ekologis jangka panjang.

Respons Pemerintah dan Lembaga Terkait

Berbagai instansi bergerak cepat melakukan evakuasi, pendataan, dan penyaluran bantuan. Pemerintah Aceh dan Sumatera Barat telah menetapkan status darurat bencana selama 14 hari. BNPB menerjunkan tim, termasuk melakukan operasi modifikasi cuaca dan memonitor perkembangan siklon.

Kementerian PUPR menginstruksikan seluruh balai di Sumbar membuka akses jalan utama serta memastikan fungsi infrastruktur air bersih dan drainase. Presiden Prabowo Subianto juga memerintahkan mobilisasi penuh instansi pemerintah untuk percepatan penanganan.

BMKG terus memberikan peringatan dini terkait perkembangan siklon tropis dan potensi cuaca ekstrem lanjutan.

Upaya Pencarian dan Pemulihan Berlanjut

Tim SAR gabungan masih mencari puluhan warga yang dilaporkan hilang. Sementara itu, pemerintah pusat dan daerah berupaya mempercepat distribusi logistik, bantuan medis, serta pemulihan infrastruktur. Kebutuhan trauma healing dan dukungan jangka panjang bagi pengungsi menjadi perhatian utama agar masyarakat dapat segera pulih dari dampak bencana.

MG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250