Uncategorized

Krisis Keamanan Nabire Kian Memburuk: Empat Serangan Brutal dalam Sebulan, DPRK Desak Respons Cepat Provinsi Papua Tengah

90
×

Krisis Keamanan Nabire Kian Memburuk: Empat Serangan Brutal dalam Sebulan, DPRK Desak Respons Cepat Provinsi Papua Tengah

Sebarkan artikel ini

Waspadatv.co.id || NABIRE – Menjelang puncak perayaan Natal dan Tahun Baru, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, diguncang gelombang kejahatan serius yang memicu kekhawatiran publik. Dalam kurun waktu kurang dari sebulan, tercatat empat insiden penganiayaan brutal oleh Orang Tak Dikenal (OTK), yang mengakibatkan satu korban tewas dan empat lainnya luka berat, termasuk seorang petugas keamanan sekolah yang menjadi korban terbaru pada Senin dini hari. (17/11/2025).

Eskalasi kekerasan ini telah menarik perhatian serius dari parlemen lokal. Anggota Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Nabire, Dina Misiro, S.Pi., menyatakan situasi keamanan di wilayah tersebut “tidak baik-baik saja” dan menuntut Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Pemerintah Kabupaten Nabire segera mengambil langkah terpadu.

Rangkaian tindak kriminal ini menunjukkan pola serangan acak yang menyasar warga di permukiman:

​1. 30 Oktober: Dua pemuda di Kelurahan Nabarua, Muhamad Rafli Darmawan (20) dan Ahmad Muamar (25), diserang dan dibacok oleh OTK di rumah mereka.

​2. 13 November: Seorang ibu di Kelurahan Kalibobo dianiaya dengan benda tajam saat berada di rumahnya sendiri.

​3. 16 November (Puncak): Agus Triyanto (37), seorang pekerja batako, ditemukan tewas mengenaskan di Bumi Wonorejo. Diduga kuat, korban dianiaya oleh dua pelaku OTK yang sebelumnya terindikasi melakukan aksi pencurian di sekitar lokasi.

4. ​17 November (Terbaru): Menix Taarega (42), petugas keamanan di SMP Negeri 2 Bumi Wonorejo, ditemukan bersimbah darah dengan luka bacok serius di wajah dan tangan sekitar pukul 03.30 WIT.

Hingga berita ini diturunkan, motif dan identitas pelaku dari seluruh insiden masih dalam penyelidikan intensif oleh pihak kepolisian, yang belum berhasil menangkap satupun tersangka.

Menanggapi krisis ini, Komisi A DPRK Nabire mendesak agar Pemerintah Provinsi dan TNI-Polri memberikan atensi ekstra. Dina Misiro menekankan bahwa momentum Natal dan Tahun Baru, yang seharusnya menjadi periode damai dan peningkatan aktivitas ekonomi, justru terancam oleh meningkatnya kerawanan.

​”Dalam beberapa pekan terakhir, situasi keamanan di Nabire tidak baik-baik saja. Ini memicu keresahan dan membutuhkan respons cepat dan terpadu dari seluruh unsur pemerintah,” tegas Dina Misiro.

Ia menggarisbawahi perlunya Gerakan Pengamanan Terpadu yang dipimpin langsung oleh Pemerintah Daerah, melampaui tugas rutin aparat keamanan. Langkah-langkah yang dinilai mendesak antara lain:

1. ​Peningkatan Patroli Rutin secara masif, terutama di titik-titik rawan kriminalitas.

​2. Koordinasi Lintas Sektor yang melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan organisasi kepemudaan.

3. ​Peningkatan Kewaspadaan Publik dan pengaktifan kembali peran masyarakat dalam melapor segera ke pihak berwajib.

Komisi A memperingatkan bahwa stabilitas keamanan adalah prasyarat utama untuk kelancaran ibadah dan kenyamanan masyarakat menjelang akhir tahun. Rangkaian kasus ini menjadi sinyal keras bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bertindak cepat demi mengembalikan rasa aman di Nabire.

(YM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250